Penuh Makna: Upacara Meriah HUT Ke-80 Kemerdekaan RI di Suluun Tareran

MINSEL || LENSAMANADO.COM – Di tengah semangat dan haru yang memenuhi Lapangan Merdeka Suluun, masyarakat Kecamatan Suluun Tareran merayakan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh kebanggaan. Upacara bendera ini dipadati warga dari berbagai lapisan yang berkumpul untuk mengenang perjalanan panjang negeri ini menuju kemerdekaan.

Camat Suluun Tareran, Drs. Tonie F.D Lantang, menjabat sebagai Inspektur Upacara. Dengan kerendahan hati, ia membuka acara tersebut. Aiptu Leonardo Malvinas Dotulong muncul sebagai Perwira Upacara, sementara Serka Lexi Tirompande memimpin barisan sebagai Komandan Upacara, menghadirkan nuansa disiplin dan kehormatan.

Keberanian generasi muda terpancar jelas ketika siswa-siswi berprestasi dari SMK N 1 Suluun Tareran dan SMA Kristen Suluun mengambil posisi sebagai pengibar Bendera Merah Putih. Falensia Runtu, seorang siswi berani dari kelas 11 TKJ, membawakan baki bendera bersama rekan-rekannya — Marcelo Walangitan, Miracle Regar, Mikhael Regar, dan Louis Pandelaki. Mereka menampilkan penampilan yang menakjubkan dan menggetarkan hati para penonton.

Acara semakin menyentuh saat pembacaan teks dilakukan oleh suara-suara inspiratif; Livia Rantung, S.Tp membacakan Teks Pembukaan UUD 1945, diikuti oleh Verke B.J Pomantow yang mempersembahkan naskah proklamasi dengan penuh penghayatan. Suasana semakin khusyuk saat Pdt. Nongke Sumual Tiaw, S.Pdk memberi doa, membawa setiap hati hadir dalam rasa syukur dan harapan.

Camat Suluun Tareran, dalam sambutannya, mengajak semua yang hadir untuk merenungkan makna kemerdekaan. “Kemerdekaan adalah anugerah yang harus kita jaga, isi dengan tindakan nyata dan bakti kepada tanah air,” serunya dengan nada menggebu, menciptakan semangat baru di antara semua peserta.

Dalam momen berharga ini, kehadiran mantan camat, hukumtua, Ketua TP-PKK dari sembilan desa, Kepala Puskesmas Sulta, serta tokoh-tokoh lainnya menambah kekuatan kolektif. Siswa-siswi dari PAUD hingga SMA/SMK menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tetap hidup di kalangan generasi penerus.

Tidak hanya sekedar upacara, tetapi sebuah perayaan akan kesatuan bangsa, cinta tanah air, dan komitmen untuk masa depan yang lebih baik. Masyarakat Suluun Tareran berhasil menyulap sajak perjuangan pahlawan menjadi lagu-lagu modern dalam riuhnya semangat juang, membuktikan bahwa sejarah tidak hanya dibaca, tapi dijalani.

(A’Run)